CILEGON, MEDIA GEMPITA – Polda Banten menyelidiki insiden ledakan yang terjadi di pabrik kimia PT Merak Chemical Indonesia (MCCI) di kawasan Gerem, Kota Cilegon, Banten, Senin (25/5/2026). Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), memasang garis polisi, hingga mengambil sampel di lokasi untuk mengetahui penyebab pasti ledakan.
Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea mengatakan, ledakan terjadi sekitar pukul 16.00 WIB di area PTA-1 PT MCCI. Saat kejadian, terdengar dentuman keras dari area produksi yang kemudian memicu aktifnya sistem peringatan dini perusahaan.
“Perusahaan langsung memerintahkan seluruh karyawan melakukan evakuasi sebagai langkah antisipasi keselamatan kerja,” ujar Maruli, Selasa (26/5/2026).
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, ledakan diduga dipicu kebocoran pipa akibat tekanan suhu yang sangat tinggi pada salah satu fasilitas produksi.
Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan tekanan hingga memunculkan suara ledakan cukup besar.
Pihak perusahaan kemudian menghentikan sementara aktivitas di area terdampak dan melakukan pemeriksaan teknis terhadap instalasi pipa serta reaktor produksi.
Akibat insiden tersebut, dua pekerja mengalami luka dan kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Krakatau Medika.
Maruli mengatakan, Satuan Brimob Polda Banten turut diterjunkan untuk melakukan sterilisasi guna memastikan tidak ada unsur radioaktif yang terlepas ke lingkungan sekitar.
Selain itu, tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Polri juga mengambil sejumlah sampel dari lokasi kejadian.
“Sekitar pukul 18.00 WIB, asap sudah tidak terlihat lagi dan situasi dinyatakan terkendali,” katanya.
Polisi juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi terkait insiden tersebut.
Tekanan Berlebih
Sementara itu, manajemen PT MCCI menjelaskan ledakan dipicu overpressure atau tekanan berlebih pada salah satu instrumen fasilitas produksi. Public Relations PT MCCI, Dimas Saputro, mengatakan tekanan berlebih itu menyebabkan munculnya dentuman keras yang terdengar hingga ke luar area pabrik.
Selain dentuman, muncul kepulan yang tampak seperti asap dari area produksi. Namun, perusahaan memastikan kepulan tersebut merupakan uap air murni dari sistem pendingin otomatis pabrik, bukan gas kimia beracun.
“Kepulan itu berasal dari sistem cooling otomatis yang bekerja saat terjadi tekanan berlebih sebagai bagian dari prosedur keselamatan pabrik,” ujar Dimas.
Ia memastikan tidak ada kebocoran gas beracun dalam peristiwa tersebut. Menurut dia, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap isu yang beredar di media sosial.
Dimas menambahkan, tidak ada korban jiwa dalam insiden itu. Namun, seorang operator mengalami luka ringan akibat terkena cipratan air panas saat sistem pengamanan otomatis aktif dan langsung mendapat penanganan medis.(red)
