Opini
Beranda / Opini / 27 Tahun Vegetarian: Bukan Soal Daging, tetapi Pilihan dan Toleransi

27 Tahun Vegetarian: Bukan Soal Daging, tetapi Pilihan dan Toleransi

Di tengah ruang kerja, gagasan dituangkan menjadi tulisan. Sebuah refleksi bahwa setiap pilihan hidup memiliki alasan, nilai, dan tanggung jawab untuk dijalani dengan konsisten serta tetap menghargai pilihan orang lain.

Oleh: Victor

Ada satu pertanyaan yang sering muncul ketika orang melihat makanan vegetarian dibuat menyerupai ayam, ikan, sate, bakso, atau berbagai olahan makanan nonvegetarian.

“Kalau sudah vegetarian, mengapa makanannya masih dibuat seperti makanan berbahan daging? Bukankah itu berarti sebenarnya masih ingin makan daging?”

Sekilas, pertanyaan itu terdengar masuk akal. Namun, menurut saya, ada hal yang perlu dibedakan. Rasa, bumbu, tekstur, bentuk, dan bahan makanan bukanlah sesuatu yang sama.

Saya sendiri sudah hampir 27 tahun menjalani vegetarian. Selama itu, ketika menikmati makanan, saya tidak pernah berpikir bahwa saya sedang makan daging. Yang saya nikmati adalah masakannya: bumbu, aroma, tekstur, cara pengolahan, serta keseluruhan cita rasa yang ada di dalamnya.

OTT KPK dan Nama Lama, Pembelajarannya di Mana?

Karena itu, menurut saya, kurang tepat jika makanan vegetarian yang menyerupai makanan nonvegetarian langsung dianggap sebagai keinginan untuk kembali makan daging. Bisa saja yang dipertahankan adalah cita rasa masakan yang sudah familiar, sementara bahan dasarnya telah diganti dengan bahan nabati.

Lalu, mengapa makanan vegetarian dibuat menyerupai makanan berbahan daging?

Jawabannya sederhana: tidak semua orang menjadi vegetarian sejak kecil.

Banyak orang tumbuh dengan kebiasaan mengonsumsi ayam, ikan, sapi, sate, bakso, rendang, dan berbagai makanan lainnya. Mereka sudah terbiasa dengan bumbu, aroma, bentuk, tekstur, dan cara penyajian makanan tersebut sejak kecil.

Ketika kemudian memutuskan beralih menjadi vegetarian, tentu tidak semua orang dapat mengubah kebiasaan yang telah berlangsung bertahun-tahun dalam waktu singkat.

Analisis Strategis Pelantikan PBMA 2026-2031 di Jawa Barat, Bukan di Jakarta

Di sinilah, menurut saya, makanan vegetarian yang menyerupai makanan yang sudah dikenal dapat menjadi sebuah jembatan.

Bukan jembatan untuk kembali makan daging, melainkan jembatan yang dapat membantu seseorang beralih ke pola makan vegetarian dengan lebih mudah.

Seseorang yang sejak kecil terbiasa menikmati sate, misalnya, mungkin masih menyukai bumbu kacang, kecap, rempah, aroma, dan cara penyajian sate. Dengan bahan nabati, ia tetap dapat menikmati karakter masakannya tanpa harus menggunakan daging hewan.

Begitu pula dengan makanan lainnya. Yang dipertahankan adalah pengalaman menikmati masakan yang sudah familiar, sedangkan bahan yang digunakan sudah berbeda.

Menurut saya, inilah salah satu alasan mengapa makanan vegetarian dibuat menyerupai makanan nonvegetarian.

Membaca Korupsi dari Perspektif Kekuasaan

Perubahan kebiasaan tidak selalu harus dilakukan secara ekstrem. Kadang, sesuatu yang familiar justru dapat membantu seseorang melangkah menuju pilihan yang baru.

Lalu, mengapa namanya masih ayam, sate, bakso, atau rendang?

Menurut saya, persoalan ini juga tidak perlu dibuat rumit. Jika bentuk, bumbu, dan cara penyajiannya menyerupai sate, tidak ada masalah jika disebut “sate vegetarian”. Jika menyerupai ayam, bisa disebut “ayam vegetarian”.

Nama tersebut dapat membantu konsumen mengenali bentuk dan karakter makanan yang ditawarkan, sementara kata “vegetarian” menjelaskan bahwa bahan yang digunakan bukan daging hewan.

Yang terpenting adalah konsumen mendapatkan informasi yang jelas mengenai bahan yang sebenarnya digunakan.

Sebagai seorang pengusaha dan advokat, saya cukup sering menghadiri rapat, pertemuan bisnis, kegiatan organisasi, maupun bertemu dengan rekan-rekan sejawat di berbagai tempat.

Tidak jarang pertemuan berlangsung di restoran yang hampir seluruh menunya nonvegetarian.

Ketika teman-teman saya makan ayam, ikan, atau daging, saya tetap merasa biasa saja. Saya memilih makanan yang tersedia tanpa produk hewani, seperti roti, kentang, sayuran, buah, atau menu lain yang sesuai dengan pilihan saya.

Saya tidak merasa tergoda dan juga tidak merasa terganggu melihat orang lain menikmati makanan yang berbeda dengan pilihan saya.

Setelah hampir 27 tahun menjalani vegetarian, bagi saya makanan berbahan daging justru sudah terasa asing. Dalam pengalaman saya sendiri, ketika tanpa sengaja mengonsumsi makanan yang ternyata mengandung daging, tubuh saya memberikan reaksi yang sangat tidak nyaman, bahkan sampai mual dan muntah.

Pengalaman tersebut semakin membuat saya memahami bahwa selera dan kebiasaan seseorang dapat berubah seiring waktu.

Karena itu, saya kurang sependapat jika seseorang langsung menyimpulkan bahwa vegetarian yang menikmati makanan nabati dengan bumbu dan cita rasa yang familiar berarti sebenarnya masih ingin makan daging.

Menyukai bumbu atau cita rasa sebuah masakan tidak berarti seseorang ingin kembali mengonsumsi bahan makanan yang dahulu digunakan untuk membuatnya.

Bagi saya, keputusan menjadi vegetarian juga bukan karena merasa lebih suci daripada orang lain.

Saya memilih vegetarian karena ingin belajar untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain. Namun, pilihan tersebut tidak membuat saya merasa menjadi manusia yang sempurna.

Saya tetap memiliki kekurangan, emosi, ego, dan kesalahan. Karena itu, saya tidak pernah menganggap vegetarian sebagai ukuran kesucian seseorang.

Begitu pula dengan kesehatan.

Saya memilih vegetarian karena ingin menjaga kesehatan dan menjalani pola hidup yang menurut saya baik bagi tubuh. Tetapi, menjadi vegetarian bukan jaminan seseorang pasti sehat.

Seorang vegetarian tetap harus memahami kebutuhan nutrisi, menjaga pola makan yang seimbang, berolahraga, dan memperhatikan gaya hidup secara keseluruhan.

Bagi saya, vegetarian bukan tentang mengatakan, “Saya lebih baik karena saya tidak makan daging.”

Melainkan, “Ini adalah pilihan yang saya ambil untuk diri saya sendiri dan saya berusaha menjalaninya dengan konsisten.”

Ada satu hal yang juga semakin saya pahami selama menjalani pilihan ini: vegetarian harus belajar toleransi.

Jika kita ingin pilihan kita dihargai oleh orang lain, kita juga harus mampu menghargai mereka yang memilih nonvegetarian.

Saya tidak pernah meminta teman yang makan bersama saya untuk berhenti makan ayam, ikan, atau daging karena saya vegetarian. Mereka pun tidak perlu memaksa saya untuk makan makanan yang tidak saya pilih.

Kami tetap bisa duduk di satu meja, berbicara, berdiskusi, tertawa, dan menikmati kebersamaan meskipun makanan di piring kami berbeda.

Menurut saya, di situlah makna toleransi.

Kita tidak harus memiliki pilihan yang sama untuk bisa saling menghormati.

Hampir 27 tahun menjadi vegetarian membuat saya semakin memahami bahwa pilihan ini bukan tentang membenci daging, bukan tentang merasa lebih suci, dan bukan pula tentang menganggap diri lebih sehat daripada orang lain.

Ini adalah pilihan hidup yang saya jalani.

Saya memilih untuk tidak mengonsumsi hewan, tetapi saya tetap menghargai orang yang memilih berbeda.

Pada akhirnya, yang paling penting bukan apa yang ada di piring orang lain, melainkan bagaimana kita menjalani pilihan kita sendiri dan bagaimana kita menghargai kehidupan.

Lidah boleh mengenal banyak cita rasa. Manusia boleh memiliki pilihan yang berbeda.

Namun, berbeda pilihan tidak berarti kita harus berbeda meja.(red)

Penulis adalah Pengusaha, Advokat, dan Mahasiswa Magister Hukum Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (UNSURYA)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan opini dan pandangan pribadi penulis yang didasarkan pada pengalaman serta pemikiran penulis selama menjalani kehidupan vegetarian. Tulisan ini tidak mewakili atau dimaksudkan sebagai pernyataan resmi dari agama, organisasi, lembaga, komunitas, maupun pihak mana pun. Seluruh pandangan dan pengalaman yang disampaikan merupakan tanggung jawab pribadi penulis.

×
×