Sastra
Beranda / Sastra / Tukša: Ketika Ruang Putih Menjadi Cermin Kehampaan Manusia

Tukša: Ketika Ruang Putih Menjadi Cermin Kehampaan Manusia

Lionel Jaden Huang, siswa kelas XI IPS, berdiri di lingkungan Calvin School Sunter. Dari ruang kelas dan pengalaman sebagai pelajar, ia menuangkan pemikiran tentang kehidupan, ambisi, kehampaan, dan pencarian makna manusia melalui cerpen “Tukša: Ketika Ruang Putih Menjadi Cermin Kehampaan Manusia.”

Karya: Lionel Jaden Huang
Kelas XI IPS

Aku ingin mati…

Telah berapa lama sudah kuhabiskan waktuku di tempat terkutuk ini?

Di sini, hidupku telah dihabiskan seperti satu abad lamanya.

Ironisnya, aku baru saja ingat bahwa waktu yang kuhabiskan di tempat hampa ini bahkan belum sampai satu hari.

SMPN 2 Sambas Ukir Prestasi Literasi ASEAN, Sabet Penghargaan MURI Puisi Etnik Pelajar

Di sini, segalanya diwajibkan untuk menjadi putih.

Mulai dari lampu neon yang silau, ruangan yang tidak memiliki sudut, lantai yang kosong, dan yang paling penting, seberapa mencekamnya ruangan ini.

Bagi beberapa orang, serba putih menandakan tentang surga.

Bagiku, ini adalah neraka yang ada di bumi.

Saat aku menginjakkan kaki di penjara ini, aku hanya berpikir bahwa ini merupakan sebuah penjara yang ganjil. Hanya sebuah ruangan yang penuh dengan warna putih.

Pikirku saat itu.

Namun, ketika berada di depan pintu sel, aku tiba-tiba ditarik secara paksa untuk dibaluri setiap helai rambutku dengan cat berwarna putih, dipakaikan pakaian tahanan putih secara paksa, dan dipaksa mengambil identitas baru yang bernama tahanan F000.

Aku segera dimasukkan ke ruangan itu oleh sipir sialan itu dengan kasar hingga aku jungkir balik.

Katanya,

“Jangan lupa untuk berpikir mengapa bajingan seperti kau ada di sini, F000.”

Aku terdiam.

Bukan karena aku takut atau apa pun.

Namun, pada detik itu, aku sadar bahwa aku sedang menertawakan kebodohanku sendiri.

Cklek.

Kunci terkunci rapat.

Untuk pertama kalinya, aku merasakan kehampaan sebesar ini.

Kesunyian itu seolah ada untuk menelan ruangan ini mentah-mentah.

Aku berusaha bertahan di kehampaan ini, namun rasanya percuma saja jika hal ini sangat absurd.

Telah berapa lama aku di sini?

Pertanyaan itu selalu muncul saat aku berdiam diri.

Belum tiga jam aku berada di tempat terkutuk ini, tetapi sudah banyak suara yang berdengung di kepalaku yang kosong.

Aku menatap air mineral yang tergeletak di lantai putih itu.

Segala benda di sana tampak jernih.

Namun, jika lama kupandang, botol ini sekalipun tidak bisa diubah seperti hidupku selama ini yang selalu terkemas rapi, tampak berguna, dan bersih.

Namun, di dalamnya tidak ada apa-apa selain kehambaran yang siap membuatku tersedak kapan saja.

Entah mengapa, yang kupikirkan saat ini adalah banyak sekali pikiran-pikiran gelap yang telah merayap di kepalaku.

Aku tidak peduli lagi entah aku akan keluar dari ruangan ini dalam keadaan bernapas atau tidak.

Yang kuinginkan hanyalah ketenangan.

Bahkan jika diriku harus hancur lebur sepenuhnya ke dalam kehampaan ini.

Apakah dunia ini benar-benar seabsurd itu?

Pertanyaan itu tiba-tiba berdengung sendiri di kepalaku yang sudah mau pecah.

Apakah seluruh kehidupan di luar sana, segala perjuangan, keringat, dan perlombaan tanpa akhir hanyalah sebuah lelucon besar yang dibuat oleh semesta untuk mencemooh kita?

Kita memburu.

Bertahan hidup.

Berlomba-lomba mencari arti untuk sepersekian detik dari semesta yang kejam, padahal bumi tetap berputar tanpa peduli siapa aku ini.

Dunia ini benar-benar absurd.

Sedangkan aku, dengan segala kewarasanku yang tersisa, baru saja sadar bahwa aku telah menghancurkan hidupku demi melawan sesuatu yang tidak ada bentuknya.

Cukup!

Teriakan itu sudah terdengar dari tengkorakku yang bodoh ini, begitu keras hingga aku tuli.

Aku sudah tidak tahan lagi!

Aku benar-benar membutuhkan bukti bahwa aku masih hidup.

Bahkan jika bukti itu dibayar dengan rasa sakit.

Tubuhku dengan segera bergerak tanpa bisa dicegah lagi oleh akal sehat.

Tanpa pikir panjang, aku segera menghantamkan jidatku sekuat tenaga ke dinding.

BUGH!

Suara hantaman itu menyebar ke seluruh ruangan.

Darah segar mengalir dari jidatku dan membuat mataku berkunang-kunang.

Namun, aku sama sekali tidak peduli.

Aku menghantamnya sekali lagi.

Dan sekali lagi.

Aku berharap dinding itu cepat-cepat hancur, atau setidaknya…

Suara teriakan itu hilang bersama darah yang mengucur.

Ironisnya, dinding itu tidak berefek sedikit pun.

Tidak ada bekas.

Tidak ada retakan.

Tidak ada suara apa pun, kecuali suara yang masih tersimpan di gendang telingaku.

Dinding itu tetap mulus, putih, dan polos.

Seketika aku merasa dipermainkan oleh si dinding.

Semakin sakit lukaku, semakin aku mengerti bahwa sia-sianya yang kulakukan selama ini sama seperti hidupku.

Seberapa keras pun berusaha mengubahnya, semuanya tidak akan bisa menyimpang.

Aku segera menjerit keras untuk menolak kenyataan ini.

Aku terhuyung mundur.

Napas terengah-engah hingga akhirnya aku jatuh untuk tidur yang cukup lama.

Kukira begitu.

Namun, sesuatu yang bernama takdir tertawa di belakangku.


Belum sempat kesadaranku sepenuhnya pulih, sebuah suara dingin terdengar membangunkan telingaku.

Suara itu sama sekali tidak terasa asing.

Tidak asing, seolah itu merupakan suaraku sendiri.

“Bangun, F000. Kamu terlalu cepat untuk tidur bagi orang yang sia-sia ini.”

Bisik suara itu.

Aku tercengang.

Siapa yang mengira kalau ada orang lain selain aku di tempat macam ini?

Aku pun terpaksa membuka mataku yang terasa lengket oleh darah kering.

Dengan sisa kesadaranku, aku melihat ke atas dan jantungku hampir copot.

Alangkah terkejutnya aku melihat dua sosok asing berdiri di hadapanku, padahal aku tahu ruangan ini terkunci rapat.

Kulihat ekspresi mereka yang sangat kontras.

Orang yang berada di sisi kananku terlihat seperti pria paruh baya.

Kantong matanya sangat gelap.

Baunya penuh dengan vodka dan asap Sobranie, rokok murahan itu.

Tangannya penuh kapalan, dengan suara yang sangat berat dan lemas.

Setidaknya aku bisa melihat gambaran besarnya.

Jika dilihat lagi, dia bagaikan pekerja kantoran yang sedang mengalami banyak sekali masalah.

Sedangkan yang satu lagi terlihat seperti tidak memiliki masalah sama sekali.

Ia tersenyum sepanjang waktu, dengan pakaian yang longgar dan rambut acak-acakan.

Dengan santainya ia berkata,

“Kau pikir dinding akan merasa kasihan hanya karena kau merusak jidatmu?”

Ia terkekeh.

Suara itu benar-benar bertujuan menghina gendang telingaku.

Ia pun mencemoohku lagi.

“Dinding ini bahkan tidak peduli sama sekali, Lukyan. Dan yang paling lucu, kau bahkan mulai lupa kapan terakhir kali kau memanggil namamu sendiri.”

Sialan.

Kenapa ia menyebut nama itu?

Nama yang sudah lama sekali terkubur di dokumen kantor itu.

“Tidak,” omongku dengan pelan.

Suaraku serak, bergetar di antara sisa-sisa darah kering di jidatku.

Aku memaksakan diri untuk menatap dua sosok sialan tak diundang itu.

“Kalian salah. Hidupku sama sekali tidak sia-sia. Apa yang kulakukan… itulah pilihanku. Aku memilih untuk memberontak!”

Si pria paruh baya di sisi kananku, yang sedang menghembuskan asap rokoknya, langsung mendengus sinis.

Ia benar-benar tampak mengejekku seolah aku hanyalah serangga yang ingin memanjatnya.

“Melawan?”

Suaranya sangat berat, seolah-olah ini adalah pemakaman.

“Melawan apa, anak muda? Melawan meja kerja? Atau melawan bos gendut yang bahkan tidak tahu bahwa kau ada?”

Jelas terlihat dari wajahnya bahwa ia menganggapku remeh.

Aku langsung membalas,

“Aku melawan demi kebebasan.”

“Cih.”

Ia mendengus.

“Merasa jadi pahlawan kesiangan, hah? Tidak, Lukyan. Kau adalah anak kecil tantrum yang setelah mainannya dirampas. Kau menghancurkan masa depan dirimu sendiri demi sebuah prinsip kosong yang tidak ada maknanya.”

“Diam!” bentakku, meski suaraku terdengar seperti cicitan tikus di tempat tanpa batas ini.

“Kalian tidak mengerti apa-apa! Setidaknya… setidaknya di detik aku mengangkat patung itu, kurasakan sedikit hawa kebebasan.”

Si rambut acak-acakan yang dari tadi tersenyum lebar tiba-tiba terbahak-bahak.

Tawa itu menggema, memantul ke seluruh ruangan ini hingga kembali ke telingaku.

“HAHAHAHA! Hawa kebebasan? Oh, bagus sekali!”

Sinisnya, seolah sedang melihat badut di sirkus.

“Tapi, jika dilihat lagi… kau berakhir duduk di kotak ini, menunggu giliran untuk dilupakan oleh dunia luar. Apakah ini arti kebebasan yang kau impikan? Menjadi sebuah pajangan di mana warna putih dilarang?”

Sebenarnya, hatiku ingin sekali menyangkalnya.

Aku ingin meneriakkan argumen filsafat membosankan itu.

Namun, semakin kucoba mencari kata-kata itu, semakin besar celah lebar yang kutemukan.

“Setidaknya,” balasku dengan sisa-sisa kesanggupan.

Mataku menatap mereka dengan penuh percaya diri.

“Setidaknya, aku tidak mati dengan diam! Aku memilih akhir ceritaku sendiri!”

Aku tersenyum yakin.

Aku merasa akan mendapatkan kemenangan.

Merasa teori bodoh mereka sudah kuruntuhkan tanpa sisa.

Namun, si pria paruh baya itu sama sekali tidak terkesan dengan jawabanku.

Ia hanya mengisap rokoknya lagi, membiarkan gumpalan asap berada di depan wajahku yang penuh dengan darah kering.

Saat mengembuskannya, ia tersenyum remeh kepadaku.

“Memilih?”

Suaranya rendah, memotong kemenanganku.

Ia berjalan mendekat dan menatapku dengan tatapan kehampaan sejuta cara.

“Kau tidak pernah memilih, Lukyan.”

Ia berhenti sejenak.

“Kau hanya menyerahkannya kembali ke kotak ini.”

Aku terdiam.

“Bos gendut itu? Minggu depan perusahaan akan mencari orang baru lewat perekrutan. Namamu akan hilang dari daftar karyawan terbaik.”

Ia menatapku.

“Justru kau? Kau mengunci dirimu di tempat ini. Kau akan membusuk di tempat terkutuk ini.”

Kata-kata yang diucapkannya benar-benar menghantamku lebih keras daripada hantaman jidatku tadi.

“Dan kalau dipikir lagi tentang memilih akhir cerita…” Si rambut acak-acakan menambahinya.

Ia tersenyum lebar tanpa dosa.

“Kau benar-benar polos, kawan. Di luar sana tidak ada yang akan peduli jika kau mati di kantor itu atau di tiang gantungan. Kau sama sekali tidak memberontak.”

Ia terkekeh.

“Kau hanya mengamuk karena dari awal kau sudah kalah dalam permainan catur ini. Dan hasilnya? Tuan rumah mengusirmu.”

Bibirku perlahan berkedut.

Ia tertarik ke atas dan membentuk sebuah lengkungan yang kaku dan mengerikan.

Dari tenggorokanku, sebuah suara lolos.

Awalnya pelan.

Lalu berubah menjadi tawa yang tertahan.

Hingga akhirnya meledak menjadi emosi yang tidak dapat dikekang oleh akal sehat lagi.

“Ha… ha… ha…”

Kemudian—

“HAHAHAHA!”

Tawa itu benar-benar pecah memenuhi seluruh ruangan putih ini.

Memantul begitu nyaring hingga kepalaku sendiri terasa ikut retak.

Aku tertawa semakin kencang.

Semakin liar.

Seolah ini adalah lelucon terlucu di alam semesta.

“Kenapa kau tertawa, bodoh?” geram si paruh baya itu.

Ia menatapku dengan jijik dan muak.

Asap rokoknya tetap mengepul, namun kalah pekat dengan kekacauan yang ada di dalam otakku.

“Aku tertawa karena kalian benar, Tuan Jenius!”

Aku benar-benar tertawa liar, lalu melotot ke arah mereka seolah tidak ada rasa takut.

“Aku kalah! Aku hanyalah pion bodoh yang mengamuk akan kekalahannya sendiri!”

Aku melengak lebih tinggi dan tertawa lebar seperti orang gila yang merayakan kekalahannya.

“Kalian tahu apa bagian serunya?”

Aku menarik napas.

“Setidaknya, saat aku menghantam benda itu ke kepala sialan itu… untuk pertama kalinya aku merasa hidup!”

Tawaku perlahan melemah.

“Aku tidak usah peduli lagi dengan kejamnya hidup ini! Ini adalah satu-satunya yang kumiliki!”

Aku menatap mereka.

“Kalian bisa saja merampas kebebasanku, tapi kalian tidak bakal mengubah fakta bahwa akulah yang menghancurkannya.”

Begitu kalimat itu keluar dari mulutku, tawa gila itu mendadak terhenti.

Dua sosok “jenius” itu terdiam.

Mereka menatapku.

Baru sadar bahwa monster yang mereka ajak bicara ini adalah bagian gelap dari diri mereka sendiri.

“Oya… aku baru ingat.”

Bisikan itu keluar melewati gigiku yang gemetar.

Suaraku menjadi pelan.

Dua sosok yang ada di hadapanku—si pekerja paruh baya dan si rambut acak-acakan—tidak lagi bersarkas.

Mereka benar-benar membeku.

Mereka menatapku seolah sedang menampakkan wajah asli mereka yang paling dibenci.

Asap itu mengepul di antara kegilaanku yang melebur menjadi abu.

Jika bukan karena bajingan sialan itu…

Jika hari itu aku memilih menunduk, menelan ludah, dan membiarkan diriku menjadi hampa perlahan-lahan di meja kantor itu, aku tidak akan diseret ke neraka putih ini.

Semuanya terasa seperti waktu berputar mundur.

Ruangan itu menjadi sebuah tempat familiar yang kuhafal di luar kepala.

Hari itu, langit di luar kantor terlihat mendung, seolah hujan Moskow bisa turun kapan saja untuk menutupi tangisan orang lain.

Saat itu, AC ruangan rusak lagi.

Kantor menjadi pengap, bercampur bau keringat, uang, dan keputusasaan terselubung di antara kemeja formal.

Di ujung ruangan, di balik patung beruang yang mengilap tanpa noda, duduklah dia.

Pria gendut botak yang dapat memantulkan cahaya kantor.

Kabanov.

Si babi itu.

Bosku.

Seseorang yang setiap saat bersiap menjadi parasit di antara kolegaku.

Langkah kaki selalu terasa berat setiap kali aku membawa map hitam laporan audit.

Setiap langkah di lantai itu seakan meneriakkan supaya aku tidak mendekat.

Tapi aku terus berjalan.

Karena di dunia absurd ini, seorang budak tidak punya pilihan lain selain pergi ke arah majikannya sendiri.

“Lukyan,” ucapnya sambil melihat layar komputer.

Wajahnya terlihat menjijikkan dan penuh lemak parasit.

Aku berhenti di depan meja itu.

Napas tertahan di paru-paruku.

“Ya… ya, Pak?” balasku.

Aku berusaha menjaga suaraku agar tidak gemetar.

Kabanov akhirnya melihat ke arahku.

Ia mendadak melempar map hitam begitu saja hingga kertas-kertas berserakan di lantai.

Lembar-lembar keuangan yang disusun dengan mengorbankan waktu tidurku, akhir pekan, dan sisa kewarasanku selama setahun terakhir, berhamburan di dekat sepatunya yang tanpa noda.

“Ini sampah, Lukyan!”

Bentaknya.

Suaranya menyebar ke seluruh kantor yang sibuk itu.

Beberapa rekan langsung menunduk lebih rendah.

Pura-pura cuek.

Pura-pura tidak melihat.

Pura-pura tidak memiliki empati.

“Angka-angka ini tidak ada gunanya sama sekali! Perusahaan ini tidak perlu otak udang yang bekerja setengah mati tapi tidak menghasilkan apa-apa. Jika kau tidak revisi, bukan cuma bonusmu yang terancam, bahkan nyawamu pun tidak cukup untuk memperbaiki kesalahan ini!”

Kata-kata itu…

Bukan lagi teguran.

Itu adalah pemberitahuan pembunuhan.

Pada detik itu, sesuatu yang ada di kepalaku tiba-tiba menyaksikan segala perjuangan hidup yang pernah kulalui dengan sangat cepat.

Aku sekolah pagi-pagi.

Kuliah sambil menahan lapar.

Masuk kerja berdesak-desakan di kereta bawah tanah.

Menatap layar selama sebelas jam sehari.

Pulang ke apartemen sempit untuk tidur sebentar.

Lalu melakukan hal yang sama keesokan harinya.

Sebuah siklus yang hanya diciptakan untuk bajingan di depanku ini.

Justru saat itu, aku mulai bertanya…

Apakah ini benar hidup?

Apakah ini yang disebut keberadaan manusia yang mulia?

“Ada apa, Lukyan? Mengapa kau diam saja?”

Dia benar-benar marah kali ini.

Ia ingin mengusirku dari tempat kubik ini.

Tahan, Lukyan. Tahan!

Itu semua yang terdengar dari otakku.

Naasnya, hatiku memilih jalan lain.

Seketika dadaku mendadak menjadi panas.

Sangat panas hingga benar-benar membakar segala ketakutan, kepatuhan, dan kebutaan yang selama ini ada di dalam diriku.

Untuk kali ini, tahan saja, Lukyan.

Segala cara kupikirkan untuk menahan irasionalitas ini.

Mataku tiba-tiba menatap ke arah meja kerjanya.

Di sana terdapat banyak tumpukan dokumen dan sepiring pirozhki.

Di antara semuanya, kulihat sebuah benda yang mungkin bisa mengakhiri penderitaan kami.

Patung beruang liar itu.

Kokoh di antara mainan kotor Kabanov.

Tanpa sadar, aku segera menggapai dan mencengkeram badan patung perak itu dengan kencang.

“Kamu mau apa, Lukyan? Masih berani juga kau mengancamku?” kata Kabanov.

Ia melihatku dengan tatapan merendahkan, seolah aku hanyalah budak yang mengikuti ketakutan.

Aku tidak menjawab.

Aku sudah muak.

Muak!

Aku tidak membutuhkan kata-kata lagi.

Dengan mengerahkan segala sisa tenaga, seluruh dendam dari penindasan bertahun-tahun, dan seluruh kebencianku terhadap alam semesta yang absurd ini, aku segera mengangkat patung itu tinggi-tinggi di udara.

Lucu ternyata…

Seseorang yang dari dulu sering menindasku tiba-tiba memohon ampun hingga bersujud di depan kakiku.

“Lukyan… Kumohon jangan bunuh aku… Aku masih ingin membuat uang di perusahaan ini. Bagaimana jika uangnya kuberikan kepadamu saja? Kau butuh uang, kan?”

Katanya dengan ekspresi penuh kepanikan.

Cih.

Uang?

Dia pikir aku membutuhkan uang dari perbudakan yang lama ini?

Tidak.

Aku ingin mengakhiri perbudakan ini walaupun aku menjadi martir.

Dengan cepat kuayunkan patung itu.

BUGH!

Suara hantaman itu benar-benar menggema sepanjang gedung.

Entah mengapa…

Rasanya sangat memuaskan.

Kabanov langsung ambruk ke lantai.

Matanya menjadi kosong.

Banyak suara teriakan terdengar di kantor.

Orang-orang menoleh untuk melihat kejadian itu.

Terutama sekretaris yang bernama Maska.

Ia segera menghampiri Kabanov dan menatapku bagaikan iblis yang telah membunuh seorang malaikat.

Ironisnya, Maska sangat membenci babi itu sampai ke bagian terdalam hatinya.

Ia sering membuat berbagai rumor dan fitnah demi membuat babi itu jatuh.

Namun tepat pada hari itu, ia berbeda.

Terlalu melekat dengan topengnya.

“Mengapa kau membunuh bos kami ini, Lukyan? Tidak sadarkah bahwa kau telah menjadi pembunuh? Mau kami panggil polisi?”

Aku berdiri.

Fokus melihat hasil perbuatanku.

Napas benar-benar memburu.

Jantungku memompa kencang.

Bukan karena aku takut akan ancaman mereka.

Namun karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan kebebasan.

Aku ingin segera menenangkan mereka dari tirani itu.

Namun tiba-tiba para penyidik mengacaukan semuanya dan segera mengepungku seolah aku adalah pencuri emas atau koruptor.

Itulah memori terakhir yang kuingat sebelum kotak putih ini menelan kesadaranku.


Kedua sosok sialan itu masih berdiri di hadapanku.

Namun bedanya, mereka tidak lagi mengejek.

Mereka menatapku dengan seringai tipis seperti baru saja mendengar cerita yang berakhir tragis.

“Sudah puas bernostalgia, Tuan Pembunuh?” bisik si rambut acak-acakan itu dengan pelan.

“Baliklah ke kenyataan. Ruangan itu tidak peduli dengan masa lalu. Mereka ini butuh waktu.”

Sebelum aku sempat membalas, tubuh kedua sosok itu lama-lama mulai menguap bersama asap rokok itu.

Namun, tepat sebelum mereka benar-benar menghilang ditelan ruangan ini, ada sebuah suara yang masih menggema di tengkorakku.

Pria tua sialan itu berkata,

“Nikmati sisa kewarasanmu, Lukyan. Hitung mundur tiga puluh hari… sebelum ruangan ini mencuci kewarasanmu.”


Hari-hari berikutnya, atau sekadar ilusi yang kubuat akibat ketidakwarasanku tentang hari…

Di sebuah tempat terkutuk, di mana matahari pun dilarang masuk, waktu kehilangan wujudnya.

Lampu neon itu tetap menyala tanpa henti, membuat mataku menjadi sakit.

Untuk menghitung berapa hari yang harus kulewati, aku menggunakan satu hal:

Kuku.

Setiap kali rasa hampa dan kosong melanda pikiranku hingga rasanya aku pingsan, aku mulai mencakar sebuah garis lurus.

Satu.

Seiring berjalannya waktu, hitungan lama itu semakin kacau.

Kadang kukuku berdarah karena aku terkadang mencakar dinding putih itu tiga kali lebih cepat dalam durasi yang, menurut perutku, seharusnya baru melewati setengah hari.

Dan rutinitas yang paling menjijikkan adalah datangnya jatah makanan.

Setiap lubang kecil di bawah pintu dibuka.

Sebuah nampan logam tipis meluncur melewati celah tersebut.

Hanya terlihat sebuah bubur abu-abu yang mengepul tipis.

Apakah makanan itu layak disebut makanan?

Tiap suapannya sama sekali tidak memiliki rasa.

Bukan hambar pada umumnya.

Namun hambar berwujud tekstur.

Saat kutelan, bubur itu terasa seperti potongan kertas yang disiram air keran mentah.

Tidak ada gula.

Tidak ada garam.

Tidak ada kandungan.

Hanyalah benda berlendir yang dipaksa kutelan untuk membuat lambungku bergejolak.

Awalnya, aku mencoba memberontak.

Aku membiarkan nampan karatan itu utuh di lantai.

Berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan sedikit pun menyentuh sampah hina ini.

Biarkan aku mati kelaparan.

Pikirku saat itu.

Biar mereka tidak berkuasa.

Namun kelaparan ini jauh lebih biadab dibandingkan rasionalitas.

Pada titik tertentu, rasa lapar menggedor-gedor dinding perut dari dalam.

Membakar asam lambung hingga aku kesakitan di lantai.

Segala harga diri, kehormatan, dan prinsip-prinsip yang kupegang segera hancur saat aku hampir dihadapkan dengan kematian.

Pada akhirnya, dengan badan gemetaran, aku menyerah.

Bagaikan anjing kelaparan yang tidak memiliki apa-apa, aku menatap nampan itu.

Aku segera menyendok bubur itu dengan tanganku sendiri karena mereka tidak memberiku apa pun.

Air mataku mengalir ke nampan itu.

Namun, sesungguhnya aku bukan saja menderita karena bubur itu.

Melainkan karena bagaimana ruangan ini mencoba mempermainkan sisa kewarasanku.

Beberapa hari kemudian.

Atau mungkin berminggu-minggu.

Karena cakaran di dinding itu sudah tak terlihat lagi.

Lubang kecil itu tiba-tiba terbuka.

Namun kali ini, dibawakan aroma yang langsung tercium oleh hidungku.

Bau bit merah yang khas.

Kaldu hangat.

Tumisan daging yang berempah.

Itulah makanan favoritku.

Borscht hangat.

Berdampingan dengan aroma khas kopi hitam yang digiling kasar.

Bau itu benar-benar terasa nyata.

Sangat tajam.

Dan langsung membawaku kembali ke memori masa laluku yang indah.

Saat aku terkena penyakit di tengah dinginnya Vladivostok.

Saat menikmati sup buatan Alya…

Wanita yang kucintai.

Wanita yang tawanya dahulu menjadi satu-satunya alasan bagiku untuk bertahan di dunia kejam ini.


Hari itu suhu di sana benar-benar dingin.

Minus dua puluh derajat Celsius.

Seluruh kota membeku.

Aku terbaring lemah.

Tubuhku menggigil hebat akibat berbulan-bulan lembur di kantor lama.

Di sisi lain, Alya duduk di sisi ranjang.

Menempelkan telapak tangan di dahiku.

Mengecek suhuku.

Sementara itu, ada mangkuk tanah liat berisi borscht yang mengepul di meja kayu.

“Kau benar-benar memaksakan diri, Luk,” bisiknya lembut.

“Perusahaan itu tidak bakal runtuh jika kau tidur sehari.”

Aku tersenyum lemah.

“Bukan soal perusahaan itu, Alya. Target minggu ini harus dicapai. Kalau berhenti di tengah jalan, bonus itu akan hilang.”

Dia menghela napas panjang.

Kulihat tatapannya terlihat seperti campuran antara rasa sayang yang tulus dan rasa kecewa yang telah ia pendam begitu lama.

“Uang, uang, dan uang.”

Katanya dengan nada bercanda, meski matanya terlihat berkaca-kaca.

“Kita sudah banyak menabung uang selama tiga tahun untuk acara pernikahan kita, Luk. Kau tidak perlu membunuh dirimu di kantor itu.”

“Sabar.”

Kataku sambil menelan sup hangat itu.

“Besok akan ada kontrak besar yang bisa ditandatangani. Kita akan ke pinggir pantai dan kita nikah di sana.”

Mendengar ucapanku, Alya tiba-tiba berhenti.

Ia menatap panjang kepadaku.

Lalu tertawa kecil.

“Jangan ngawur, Lukyan.”

Ia mencubit pelan hidungku.

“Jangan suka bilang kata besok. Kebiasaan buruk, tahu.”

Alya segera meletakkan mangkuk di atas meja dan menatapku dengan wajah khawatir.

“Orang-orang yang selalu menunda kebahagiaan mereka demi kata besok itu mirip seperti orang yang sudah mati di kubur. Mereka masih berharap untuk hidup kembali.”

Aku benar-benar terdiam.

Mungkin kalimat itu terasa ringan untuknya.

Namun bagiku, kalimat itu bagaikan panah yang langsung menyerang ulu hati.

Seolah-olah dia saat itu bisa meramalkan masa depan.

Aku bertanya,

“Kenapa begitu?”

Alya hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis kepadaku.

“Karena, ya, Lukyan, hidup itu tidak selalu sejalan dengan yang kamu mau. Hidup ini ada batasnya, tapi ambisimu tidak.”

Ia terdiam sebentar.

“Aku hanya khawatir jika suatu hari nanti kau begitu fokus mengejar hari esok sampai kau bisa kehilangan orang yang kau cintai.”

Aku hanya tertawa saat itu.

Menganggap ucapannya seperti ocehan anak kecil dari wanita yang mencari perhatian.

Aku bangga bahwa akulah budak yang menganggap kerja keras adalah satu-satunya cara untuk selamat dari dunia yang absurd ini.

Setiap kali Alya mengajakku jalan-jalan di taman, menikmati secangkir kopi di kafe pinggir jalan, dan duduk diam menikmati matahari terbenam, aku selalu menolaknya dengan alasan yang klasik.

Nanti saja, ya, saat proyek sudah beres.

Besok, Alya. Setelah aku naik jabatan.

Nanti ya, sayang. Harus kuselesaikan ini dulu.

Kalimat itu selalu berputar-putar di pikiranku.

Aku memang sudah mati sejak awal.

Aku adalah mayat yang menggunakan kata besok sebagai perisai untuk menolak setiap detik kehangatan dalam hidupnya demi angka-angka yang selalu membodohiku.

Dan untuk sekarang…

Aroma itu ada lagi.

Air liurku segera membanjiri seluruh ruang mulutku.

Dengan napas terengah-engah dan tangan yang masih gemetaran, aku merangkak menghampiri lubang itu.

Aku benar-benar berharap menemukan mangkuk yang sama dengan yang ada dalam pikiranku.

Ironisnya, yang kudapati hanyalah semangkuk bubur abu-abu yang sama seperti sebelumnya.

Tidak ada borscht.

Tidak ada kopi hitam.

Semuanya hanya halusinasi yang diciptakan oleh otakku yang kelaparan.

Aku tersedu-sedu dalam kegilaan lantai putih ini karena aku tahu bahwa aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Ruangan ini telah mengambil segalanya dari kita.

Mulai dari harga diri, kewarasanku, suaraku, hingga ingatan yang membuatku merasa menjadi seorang manusia.

Dan berhari-hari setelah halusinasi itu—atau mungkin sudah berminggu-minggu—tubuhku benar-benar sudah menyerah hingga batasnya.

Tenggorokanku yang terkejut dengan situasi ini perlahan-lahan kehilangan kemampuan sepenuhnya.

Saat aku hendak membuka mulut untuk memaki, berteriak, ataupun memanggil nama Alya dalam keputusasaan ini, yang keluar dari bibirku hanyalah kekosongan yang benar-benar menyakitkan.

Suaraku tidak ada lagi.

Yang kalian kini dengar hanyalah isi hatiku.

Segala suara pikiranku telah dirobek oleh jeritan-jeritan kegilaan ini.

Aku bukan lagi seorang manusia.

Aku hanyalah daging kosong yang tergeletak di sudut ruangan putih ini.

Perlahan, jari-jariku terasa lemas untuk mencakar waktu di dinding.

Menurutku, tiga puluh hari itu tidak lagi menjadi penting.

Tanpa adanya suara apa pun, aku menyadari bahwa inilah hukuman yang paling ngeri.

Bukanlah seorang algojo menggunakan kapak.

Bukanlah kursi listrik yang siap menyengat dalam hitungan detik.

Aku kini terbaring di atas lantai dingin ini.

Menatap lurus ke arah celah pintu.

Tidak ada suara tangis.

Hanya suara detak jantungku yang semakin lambat.

Lama-kelamaan, aku merasa seolah-olah detak itu sedang menghitung setiap detik yang tersisa.

Lama-lama, mataku benar-benar tertutup.

Kegelapan menyelimuti mataku.

Yang terakhir kudengar hanyalah sebuah jam pasir yang semakin sedikit menyisakan butir pasir.

Sisa dua butir.

Satu butir.

Lalu kesunyian itu datang.

Aku menunggu malaikat menjemput.

Aku menunggu untuk hilang selamanya di sel putih ini.


Alih-alih kehilangan kesadaran sepenuhnya, secara mendadak kurasakan sebuah benturan asing yang tiba-tiba mengembalikanku ke tempat yang aneh ini dengan tubuhku.

Bang!

Bukan lagi suara benturan lantai.

Melainkan suara injakan pantofel yang menggema di ruangan itu.

Aku mencium aroma AC yang bercampur dengan bau kertas tua yang apek.

Aku terkejut.

Saat itu juga, mataku terbuka lebar.

Cahaya ruangan neon putih yang selalu membuat mataku silau itu sudah lenyap.

Sudah digantikan oleh lampu kantor yang redup dan suram.

Di hadapanku, layar monitor masih menyala terang.

Menampilkan berbagai angka dengan rubel di sampingnya dan laporan audit tahunan yang benar-benar berantakan.

Aku duduk kaku di atas kursi putar kantorku.

Berusaha mencerna apa yang terjadi.

Tanganku meraba meja kayu ek di depanku.

Bersih.

Sama sekali tidak ada noda darah.

Tidak ada bekas cat putih.

Aneh.

Tepat di tempat awal.

Aku terengah-engah.

Tanganku memegang dada yang panik.

Jantungku berdetak cepat akibat semua keanehan ini.

Kulihat patung beruang liar itu masih berdiri kokoh.

“Lukyan! Di mana kau!”

Suara bentakan itu sangat menjijikkan, namun terdengar familiar.

Kabanov.

Si bos besar gendut dengan otak kosong membentakku dari ambang pintu.

Wajahnya benar-benar merah, dipenuhi urat-urat kemarahan yang siap meletus kapan saja.

Di belakangnya, sekretaris memegang map hitam dan menatapku dengan sinis.

“Kenapa kau melamun dari tadi, hah?”

Bentak Kabanov.

Ia melangkah ke arahku dan membanting meja kerjaku.

“Laporan audit ini masih jelek! Kalau dalam satu jam angka-angka ini tidak kau revisi, anggap saja besok hanya namamu yang ada. Cepat kerjakan!”

Aku bingung.

Terdiam.

Seluruh tubuhku benar-benar gemetaran.

Bukan karena takut kepada babi itu.

Namun karena aku bingung dengan segala yang terjadi.

Tanganku segera meraba pelipis dan mengeceknya.

Tidak ada darah.

Tidak ada luka robek.

Aku menelan ludah.

Namun semakin bingung akan ketakutanku sendiri.

Apakah semua itu…

sebuah mimpi?

Apakah tiga puluh hari penyiksaan itu hanyalah imajinasi?

Apakah pembunuhan kepada babi itu pun sebuah fantasi karena otakku kelelahan?

Kabanov mendecih kesal melihatku hanya terdiam seperti orang bodoh.

Ia segera berbalik dan membanting pintu.

Pekerja kantoran di sebelah kembali menunduk.

Pura-pura sibuk.

Menghindari pertunjukan tersebut seolah hal ini merupakan sebuah rutinitas.

Aku menatap layar komputer yang ada di hadapanku.

Angka-angka itu mengejekku dan memintaku untuk melanjutkan mengetik.

Untuk mengulangi siklus perbudakan ini.

Aku perlahan mengambil napas.

Lalu aku tersenyum.

Sebuah senyuman mengerikan yang hampa.

Bagaimana jika tempat terkutuk itu bukanlah sebuah mimpi?

Bagaimana jika warna putih itu dan kehampaan itu adalah tempat asli?

Dan segala yang ada di sini, mulai dari komputer, meja, bos cerewet ini, merupakan cara terakhir otakku untuk melupakan kenyataan bahwa akulah seorang pembunuh?

Atau mungkin…

dunia luar sana, di tempat kalian duduk dan membaca kisah ini sekarang, jauh lebih putih, jauh lebih hampa, jauh lebih gila dibandingkan dengan segala yang pernah kubayangkan?

Kalian pikir ini hanyalah sebuah khayalan?

Kalian pikir kalian bisa duduk dengan tenang, menertawakan seorang budak korporat bernama Lukyan?

Coba lihat telapak tangan kalian sendiri.

Coba dengar baik-baik suara di sekitar kalian.

Apakah kalian benar-benar yakin bahwa kalian sedang hidup di dunia nyata?

Bukan sebuah ruangan putih yang sama…

menanti giliran untuk disiksa?

×
×