Kesehatan
Beranda / Ragam / Kesehatan / China Berbeda Pendapat dengan WHO Soal Pemakaian Masker

China Berbeda Pendapat dengan WHO Soal Pemakaian Masker

Menurut data Universitas Johns Hopkins di Maryland, Sabtu (28/3/2020), kasus Covid-19 di AS mencapai 105.000, dan ini terbesar di dunia.(Foto: Ist)

Jakarta,Gempita.co – Penularan virus corona sudah sangat tinggi, pemakaian masker di tempat umum sangat disarankan untuk mencegah tubuh terserang virus ini.

Namun di sebagian negara, penduduknya banyak yang tidak mengindahkan hal ini, seperti penduduk AS dan Eropa. Mereka tidak mengenakan masker di muka umum selama pandemi virus corona (Covid-19) dan ini dinilal keliru.

Menurut data Universitas Johns Hopkins di Maryland, Sabtu (28/3/2020), kasus Covid-19 di AS mencapai 105.000, dan ini terbesar di dunia.

“Kesalahan besar di AS dan Eropa menurut saya adalah bahwa orang tidak memakai masker,” demikian kata Dirjen Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok, Gao Fu, saat wawancara dengan Science Magazine, Minggu (29/3/2020).

Virus corona menurut Gao, ditularkan melalui tetesan dan kontak dekat. “Tetesan memainkan peran yang penting. Anda harus mengenakan masker, karena ketika Anda berbicara, selalu ada tetesan yang keluar dari mulut Anda,” terangnya.

Siruaya Utamawan: Pekerja Platform Digital dan Ojol Harus Dapat Perlindungan JKN serta Kepastian Hukum

Pendapat Gao ini ternyata tidak sejalan dengan pendapat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan hanya orang yang menunjukkan gejala infeksi atau perawat yang memakai masker wajah.

Pandangan ini diamini oleh Pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Eropa dan AS memiliki pemikiran yang sama dengan WHO.

Badan Kesehatan China (CDC)  dalam imbauannya pada 22 Maret 2020 mengatakan, orang tidak perlu memakai masker saat berada di rumah, di udara terbuka, atau di lingkungan yang memiliki sirkulasi udara baik dan tidak ada kerumunan orang.

Meski demikian disarankan untuk tetap memakainya bila berada di kantor, ruang rapat, lift dan angkutan umum.

Selain itu, Gao juga menyerukan untuk lebih banyak menydiakan termometer di tempat-tempat umum di Eropa dan AS.

Prabowo Resmikan Gedung Baru dan Institut Neurosains di RSPON

“Ke mana pun Anda masuk ke China ada termometer. Anda harus mengukur suhu tubuh sesering mungkin untuk memastikan siapa pun yang menderita demam tinggi,” saran Gao.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
×