PEKANBARU,Mediagempita.com — PTPN IV PalmCo mendorong kemandirian ekonomi perempuan di daerah sentra perkebunan melalui pelatihan inovasi produk turunan sawit, khususnya pemanfaatan limbah sawit menjadi produk bernilai ekonomi.
Kegiatan yang diinisiasi Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Dinas Perkebunan tersebut diikuti sekitar seratus peserta yang mayoritas merupakan perempuan dari Kabupaten Kampar, Riau.
Region Head PTPN IV Regional III, Bambang Budi Santoso, mengatakan penguatan peran perempuan menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga petani sawit.
“Kita semua sepakat bahwa sawit adalah pohon kehidupan. Setiap bagian tanaman sawit memiliki nilai yang bisa dimanfaatkan. Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong perempuan memiliki keterampilan tambahan agar mampu menciptakan produk bernilai jual dari sawit, termasuk dari limbahnya,” ujar Bambang.
Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali keterampilan mengolah umbut sawit menjadi camilan stik, memproduksi minyak angin berbasis sawit, serta mengolah limbah lidi sawit menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi.
Menurut Bambang, potensi sawit harus terus dikembangkan melalui produk turunan agar mampu menciptakan sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
“Kami percaya, ketika perempuan memiliki keterampilan dan akses terhadap peluang usaha, maka ketahanan ekonomi keluarga akan semakin kuat,” katanya.
Ketua DPD I Aspekpir Provinsi Riau, Sutoyo, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya organisasi dalam memperkuat kapasitas petani, tidak hanya dari sisi budidaya, tetapi juga hilirisasi produk sawit.
“Selama ini petani fokus pada produksi, namun ke depan harus mampu mengembangkan produk turunan. Perempuan memiliki peran besar karena telaten dan kreatif dalam mengolah produk,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Divisi Kerjasama Kemasyarakatan dan UMKM BPDPKS, Linda Sitanandra, menyatakan dukungan terhadap kegiatan pemberdayaan masyarakat sawit, khususnya perempuan, karena dinilai mampu meningkatkan nilai tambah komoditas sawit.
“Kami melihat program seperti ini sangat strategis karena tidak hanya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, tetapi juga menciptakan nilai tambah dari komoditas sawit,” ujarnya.
Senada, Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Kampar, Marahalim, menilai pelatihan tersebut dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat dan meningkatkan pendapatan keluarga petani.
“Kami berharap produk-produk ini dapat terus dikembangkan hingga memiliki pasar yang lebih luas,” katanya.
Melalui kolaborasi tersebut, pengolahan limbah sawit diharapkan tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga menjadi sumber kemandirian ekonomi baru bagi perempuan di daerah perkebunan.
