JAKARTA, MEDIAGEMPITA.COM – Penasihat Forum Akademisi Indonesia (FAI) Aat Surya Safaat menyoroti potensi kolaborasi Indonesia dan Taiwan di bidang pendidikan dan teknologi. Menurut dia, kemitraan kedua pihak masih memiliki ruang untuk dikembangkan, termasuk melalui program beasiswa, investasi, perdagangan dan penguatan hubungan antarmasyarakat.
“Saya yakin hubungan business-to-business dan people-to-people Taiwan-Indonesia ke depan akan semakin tumbuh dan berkembang serta memiliki banyak ruang untuk perbaikan bagi keuntungan kedua belah pihak,” kata Aat dalam perbincangan dengan wartawan di Jakarta, Sabtu (10/10/2026).
Wartawan senior yang akrab disapa Aat itu menyampaikan pandangannya bertepatan dengan peringatan Double Tenth Day, yakni Hari Nasional Taiwan yang diperingati setiap 10 Oktober.
Sebelumnya, dalam resepsi peringatan Hari Nasional Taiwan ke-115 yang digelar di Jakarta pada 7 Oktober 2026, Kepala Kantor Perdagangan dan Ekonomi Taipei (TETO) di Indonesia Bruce C. J. Hung menyatakan bahwa kemitraan Taiwan dan Indonesia terus berkembang.
“Kerja sama Taiwan dan Indonesia terus berkembang dalam bidang perdagangan, investasi, pendidikan, dan hubungan antarmasyarakat, dan kami menganggap warga Indonesia di Taiwan sebagai keluarga,” kata Bruce Hung.
Menurut Bruce, lebih dari 400.000 pekerja migran Indonesia (PMI) berada di Taiwan. Selain itu, sekitar 18.000 mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan di wilayah tersebut.
Pendidikan dan Peluang di Industri Teknologi
Aat mengatakan, warga Indonesia di Taiwan memiliki beragam latar belakang. Selain bekerja sebagai PMI, sebagian warga Indonesia menempuh pendidikan tinggi hingga jenjang doktoral. Ada pula yang bekerja di perusahaan berteknologi tinggi, termasuk di industri semikonduktor.
Taiwan memiliki peran penting dalam rantai pasok semikonduktor global, khususnya dalam manufaktur cip. Posisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas kerja sama di bidang pendidikan, pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan teknologi.
Dalam bidang pendidikan, Aat yang telah empat kali berkunjung ke Taiwan menyoroti kesempatan bagi pelajar Indonesia untuk melanjutkan studi di wilayah tersebut, termasuk melalui berbagai program beasiswa.
Ia berharap kerja sama pendidikan dan pemberian beasiswa bagi mahasiswa Indonesia dapat terus dikembangkan. Menurut dia, kesempatan belajar di Taiwan dapat memperluas akses mahasiswa Indonesia terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengalaman internasional.
“Setelah menyelesaikan studi di Taiwan, mereka bisa langsung bekerja di Taiwan atau bekerja di perusahaan Taiwan yang berinvestasi di Indonesia,” ujar Aat yang sejak 2025 dipercaya sebagai Direktur Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (LUKW) PWI.
Direktur Pemberitaan ANTARA pada 2016 itu juga menyampaikan bahwa mahasiswa Indonesia di Taiwan menempuh berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sarjana (S1), magister (S2), hingga doktoral (S3). Sebagian di antaranya mengambil bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), yang mencakup sains, teknologi, teknik dan matematika.
Bidang tersebut, menurutnya, relevan dengan pengembangan industri berteknologi tinggi, termasuk semikonduktor. Melalui peningkatan akses pendidikan dan pertukaran pengetahuan, kerja sama kedua pihak berpotensi mendukung pengembangan sumber daya manusia Indonesia.
Investasi dan Perdagangan Saling Melengkapi
Selain pendidikan dan teknologi, Aat menilai investasi perusahaan Taiwan di Indonesia turut membuka peluang ekonomi. Investasi tersebut tidak hanya berkontribusi terhadap kegiatan usaha, tetapi juga berpotensi menciptakan lapangan kerja dan kesempatan usaha bagi masyarakat.
Dalam bidang perdagangan, Taiwan dipandang sebagai salah satu mitra strategis Indonesia. Hubungan perdagangan kedua pihak mencakup pertukaran berbagai produk industri dan bahan baku yang saling melengkapi.
Aat menyebut sejumlah produk yang terkait dengan perdagangan dan rantai pasok industri, antara lain alat kesehatan, peralatan golf, sepeda, serta barang elektronik.
“Taiwan juga memiliki jaringan ekspor ke berbagai pasar, termasuk Korea Selatan, Jepang, Tiongkok dan Amerika Serikat,” ujar Kepala Biro Kantor Berita ANTARA di New York pada 1993-1998 itu.
Di sisi lain, Taiwan mengimpor berbagai produk dari Indonesia, terutama bahan baku yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan industri.
Menurut Aat, hubungan perdagangan dan investasi tersebut dapat terus dikembangkan agar memberikan manfaat bagi kedua pihak. Penguatan kolaborasi juga dapat membuka kesempatan bagi pelaku usaha Indonesia untuk terlibat lebih jauh dalam rantai pasok internasional.
Perlindungan WNI di Taiwan
Aat turut menekankan pentingnya perlindungan bagi warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja maupun menempuh pendidikan di Taiwan.
Meskipun Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan, pelayanan dan perlindungan terhadap WNI tetap menjadi aspek penting dalam hubungan kedua pihak.
Ia menilai Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei telah menjalankan fungsi pelayanan bagi WNI, termasuk pekerja migran. Upaya perlindungan tersebut mencakup pemenuhan hak-hak PMI sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
PMI, lanjutnya, dalam prinsip pelayanan KDEI Taipei, tidak hanya dipandang sebagai penyumbang devisa negara, tetapi juga sebagai WNI yang memiliki hak dan kewajiban. Karena itu, perlindungan pekerja migran perlu berjalan seiring dengan penguatan kerja sama ekonomi dan pendidikan.
“Pengembangan kolaborasi di bidang pendidikan, teknologi, perdagangan dan investasi diharapkan dapat memperluas manfaat kemitraan Indonesia-Taiwan. Di saat yang sama, hubungan antarmasyarakat tetap menjadi bagian penting dalam membangun kerja sama yang saling menguntungkan,” pungkasnya.(red)
